Cite This        Tampung        Export Record
Judul Antropologi Indonesia Tahun XXIV No.62 Mei-Agustus 2000
Pengarang Indonesia
Penerbitan Jakarta : UI, 2001
Deskripsi Fisik 137 hlm. ;23 cm.
ISBN 021-615-76
Subjek Jurnal Antropologi
Abstrak ANTROPOLOGI INDONESIA. Apakah yang dimaksud dengan kesenian Indonesia? Adakah, atau yang manakah sesungguhnya kesinian Indonesia itu? Pertanyaan ini tentulah tidak mudah menjawabnya karena masih adanya perbedaan pandangan tentang apa itu kesenian Indonesia dan pencarian atas eksistensi kesenian Indonesia terus berlangsung secara seksama. Edisi kali ini masih menyajikan sejumlah makalah yang dipresentasikan pada Jubileum ke-30 Jurnal Antropologi Indonesia tahun lalu.Tema utamanya adalah karya seni dan dokumentasi dalam perspektif antropologi ditambah dengan tiga tulisan lepas tentang kesuku-bangsaan dan kebangsaan, lanjutan seri tulisan mengenai trust, dan tentang pendidikan antropologi di Indonesia. M.Junus Melalatoa mendiskusikan kesenian sebagai salah satu ruang wacana rasa dan pikiran yang menjadi bagian konfigurasi budaya suatu masyarakat. Tulisannya mencari pemahaman atas kesenian-kesenian tradisional yang masih hidup di halangan masyarakat etnis yang menjadi bagian dari kemajemukan Indonesia. Selanjutny
Bahasa Indonesia
Bentuk Karya Bukan fiksi atau tidak didefinisikan
Target Pembaca Umum

 
No Barcode No. Panggil Akses Lokasi Ketersediaan
027005 R.070.301 IND a Baca ditempat DISPUSARDA Kota Metro - Ruang Koleksi Referensi Tersedia
027006 R.070.301 IND a Baca ditempat DISPUSARDA Kota Metro - Ruang Koleksi Referensi Tersedia
027007 R.070.301 IND a Baca ditempat DISPUSARDA Kota Metro - Ruang Koleksi Referensi Tersedia
027008 R.070.301 IND a Baca ditempat DISPUSARDA Kota Metro - Ruang Koleksi Referensi Tersedia
027004 R.070.301 IND a Baca ditempat DISPUSARDA Kota Metro - Ruang Koleksi Referensi Tersedia
Tag Ind1 Ind2 Isi
001 INLIS000000000006346
005 20220222024228
008 220222################g##########0#ind##
020 # # $a 021-615-76
035 # # $a 0010-0721001605
082 # # $a R.070.301
084 # # $a R.070.301 IND a
110 # # $a Indonesia
245 1 # $a Antropologi Indonesia Tahun XXIV No.62 Mei-Agustus 2000
260 # # $a Jakarta :$b UI,$c 2001
300 # # $a 137 hlm. ; $c 23 cm.
520 # # $a ANTROPOLOGI INDONESIA. Apakah yang dimaksud dengan kesenian Indonesia? Adakah, atau yang manakah sesungguhnya kesinian Indonesia itu? Pertanyaan ini tentulah tidak mudah menjawabnya karena masih adanya perbedaan pandangan tentang apa itu kesenian Indonesia dan pencarian atas eksistensi kesenian Indonesia terus berlangsung secara seksama. Edisi kali ini masih menyajikan sejumlah makalah yang dipresentasikan pada Jubileum ke-30 Jurnal Antropologi Indonesia tahun lalu.Tema utamanya adalah karya seni dan dokumentasi dalam perspektif antropologi ditambah dengan tiga tulisan lepas tentang kesuku-bangsaan dan kebangsaan, lanjutan seri tulisan mengenai trust, dan tentang pendidikan antropologi di Indonesia. M.Junus Melalatoa mendiskusikan kesenian sebagai salah satu ruang wacana rasa dan pikiran yang menjadi bagian konfigurasi budaya suatu masyarakat. Tulisannya mencari pemahaman atas kesenian-kesenian tradisional yang masih hidup di halangan masyarakat etnis yang menjadi bagian dari kemajemukan Indonesia. Selanjutnya dipertanyakan, dapatkah kesenian-kesenian itu menjadi sarana perekat integrasi bangsa Indonesia?Artikel Ninuk Kleden-Probonegoro mengulas tentang teater yang dapat berfungsi sebagai dokumen bagi komunitasnya. Bertolak dari pemikiran Paul Ricoeur yang melihat wacana tulis adalah inskripsi dari wacana lisan, penulis menganalisis pertunjukan teater lenong Gaya Baru yang dikaitkan dengan situasi reformasi Indonesia. Dalam pengamatannya pertunjukan ini tidak memperlihatkan adanya kecenderungan reformasi yang berarti. Pertanyaan yang timbul adalah apakah peranan teater tradisional dalam mendokumentasikan komunitasnya perlu dipertajam ataukah komunitas itu tidak menganggap penting adanya reformasi yang berlangsung pada tataran nasional? Tulisan selanjutnya dari Mauly Purba memperlihatkan bagaimana gereja membawa nilai-nilai baru ke tengah masyarakat Batak Toba dan sekaligus menginginkan dihapusnya nilai-nilai budaya yang tidak sejalan dengan gereja, misalnya tradisi gondang sabangunan dan tortor. Penulis menunjukkan perubahan fungsi dan dinamika gaya penyajian gondang sabangunen dan tortor sebagai akibat dari kebijakan gereja. Iwan Meulia Pirous membahas bahwa pembagian dikotomi modern-tradisional dalam fenomena kesenian sebenarnya merupakan wacana besar hasil konstruksi ilmiah yang perlu dipertanyakan kembali. Seni rupa modern bukanlah wacana tunggal milik peradaban Barat karena di belahan dunia lain terjadi pergolakan yang melahirkan modernitas yang lain dan terekspresi dalam seni modern yang berwama lain pula. Penulis menunjukkan kasus-kasus seni rupa modern Indonesia sebagai suatu wacana sendiri yang khas, yang di dalamnya hadir dialog yang intensif antara elemen tradisi dan modern. Transformasi anggota-anggota sebuah kelompok yang terisolasi ke dalam sebuah masyarakat majemuk yang lebih besar sesungguhnya terjadi karena interaksi antara sifat majemuk masyarakat teriebut dan posisi kelompok yang terisolasi dalam struktur kekuasaan masyarakat tersebut .Dengan mengambil kasus orang Sakai di Riau, Parsudi Suparlan memperlihatkan bahwa kesukubangsaan menjadi persoalan yang penting dalam kehidupan orang Sakai. Munculnya variasi kesukubangsaan dan kebangsaar (nationality) pada individu-individu Sakai adalah suatu akibat dari upaya-upaya mereka mendefinisikan kembali posisi mereka dalam suatu situasi atau struktur tertentu.
650 # 4 $a Jurnal Antropologi
990 # # $a 027004
990 # # $a 027004
990 # # $a 027005
990 # # $a 027006
990 # # $a 027007
990 # # $a 027008
990 # # $a 07164
Content Unduh katalog