Cite This        Tampung        Export Record
Judul Fungsi Sosial Rumah Ibadah Dari Berbagai Rumah Agama : Dalam Perspektif Kerukunan Umat Beragama
Pengarang Hakim, Bashori A
Penerbitan Jakarta : Departemen Agama RI, 2004
Deskripsi Fisik 260 hlm. ;21 cm.
ISBN 979-3581-88-2
Subjek Agama
Rumah Ibadah
Abstrak FUNGSI SOSIAL RUMAH IBADAH DARI BERBAGAI AGAMAFungsi sosial Rumah Ibadah dari berbagai agama dalam perspektif kerukunan umat beragama, merupakan salah satu bagian dari penelitian yang dilakukan oleh puslitbang Kehidupan Beragama Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan Departemen Agama RI dalam rangka membangun hubungan toleransi antar umat beragama dari berbagai agama di Indonesia. Bangsa Indonesia memiliki ragam budaya,etnis, agama dan suku, sehingga tempat ibadah menjadi salah satu tempat yang strategis bagi upaya pendidikan dan pengembangan agama bagi para umat masing-masing agama dalam membangun toleransi yang harmonis. Hal ini dikarenakan semua agama selalu mengajarkan kepada semua umat manusia untuk saling mengharagai dan menghormati tanpa ada rasa permusuhan dan tempat ibadah salah satu fungsinya adalahmembangun kesadaran umatnya untuk membagun hubungan yang harmonis antar golongan agama di Indonesia. Agama terletak dan tercermin pada ajarannya yang dipandang sakral oleh para pemeluknya, sebagai acuan
Bahasa Indonesia
Bentuk Karya Bukan fiksi atau tidak didefinisikan
Target Pembaca Umum

 
No Barcode No. Panggil Akses Lokasi Ketersediaan
022007 200.72 HAK f Dapat dipinjam DISPUSARDA Kota Metro - Ruang Koleksi Umum Tersedia
pesan
022008 200.72 HAK f Dapat dipinjam DISPUSARDA Kota Metro - Ruang Koleksi Umum Tersedia
pesan
Tag Ind1 Ind2 Isi
001 INLIS000000000004913
005 20220705104259
008 220705################g##########0#ind##
020 # # $a 979-3581-88-2
035 # # $a 0010-0721000172
082 # # $a 200.72
084 # # $a 200.72 HAK f
100 1 # $a Hakim, Bashori A
245 1 # $a Fungsi Sosial Rumah Ibadah Dari Berbagai Rumah Agama : $b Dalam Perspektif Kerukunan Umat Beragama
260 # # $a Jakarta :$b Departemen Agama RI,$c 2004
300 # # $a 260 hlm. ; $c 21 cm.
520 # # $a FUNGSI SOSIAL RUMAH IBADAH DARI BERBAGAI AGAMAFungsi sosial Rumah Ibadah dari berbagai agama dalam perspektif kerukunan umat beragama, merupakan salah satu bagian dari penelitian yang dilakukan oleh puslitbang Kehidupan Beragama Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan Departemen Agama RI dalam rangka membangun hubungan toleransi antar umat beragama dari berbagai agama di Indonesia. Bangsa Indonesia memiliki ragam budaya,etnis, agama dan suku, sehingga tempat ibadah menjadi salah satu tempat yang strategis bagi upaya pendidikan dan pengembangan agama bagi para umat masing-masing agama dalam membangun toleransi yang harmonis. Hal ini dikarenakan semua agama selalu mengajarkan kepada semua umat manusia untuk saling mengharagai dan menghormati tanpa ada rasa permusuhan dan tempat ibadah salah satu fungsinya adalahmembangun kesadaran umatnya untuk membagun hubungan yang harmonis antar golongan agama di Indonesia. Agama terletak dan tercermin pada ajarannya yang dipandang sakral oleh para pemeluknya, sebagai acuan dan pandangan hidup. Setiap penganut agama akan berupaya sedapat mungkin sesuai dengan kapasitas kemampuan masing-masing mengaktualisasikan ajaran agamanya dalam prilaku sosial kesehariannya. Dalam kondisi demikian, maka agama akan nampak atau menyatakan dirinya dalam bentuk tingkah laku keagamaan, baik dalam format individual maupun kelompok, dan secara sosiologis kemudian kita kenal adanya istilah-istilah seperti: penganut agama, komunitas agama dan tokoh ataupemimpin agama. Setiap penganut agama yang patuh, terdorong dan ingin menyatakan kebenaran agamanya masing-masing. Dari persepsi dan ukuran serta pendekatan ke-wahyrbana akan melahirkan sikap dogmatis yang memandang ajaran agama sebagai sesuatu yang mutlak, berlaku sepanjang masa dan disegala zaman, tidak pernah berubah dan merupakan gambaran tata nilai dan tatanan hidup yang ideal. Dari sudut pandang yang lain wujud keberagamaan itu tampak bersifat manusiawi dalam pengertian bahwa internalisasi ajaran agama oleh para pemeluknya sangat dipengaruhi oleh beragam faktor, baik yang berasal dari latar belakang seseorang selaku individu, maupun sebagai anggota dari komunitas sosial disuatu tempat dalam kurun waktu tertentu. Dalam konteks ini maka agama tidak hanya semata-mata merupakan semacam gugusan doktrin yang sakral, tetapi sudah melembaga sedemikian rupa dalam pranata-pranata sosial serta konsepsi-konsepsi, mitos atau simbol keagamaan, yang secara lahiriahsudah menjadi fenomena sosial kultural pada kelompok masyarakat tertentu. Dalam konteks seperti itu tak satupun agama yang mampu menyelamatkan umatnya dalam ciri dan corak yang sama, walaupun mereka menjadi pemeluk agama yang sama. Keragaman tersebut oleh para ahli disebut sebagai ekspresi ajaran agama yartg dipengaruhi oleh perbedaan penafsiran dan latar belakang sosial budaya. Adanya perbedaan cara pandang tersebut bisa menimbulkan friksi terhadap sikap sementara para ahli yang menggeluti agama sebagai lapangan kajian emperik di satu pihak, sementara di pihak lain memandang agama semata-mata dari segi agamanya yang murni. Namun bila ditelaah secara cermat dan hati yang jernih, perbedaan pandangan itu adalah sesuatu yang wajar dan tidak mencerminkan hal yang negatif, karena dalam kandungan ajaran agarna itu sendiri memang ada yang bersifat doktrin yarg dogmatis, di samping ajaran yang kontekstual manusiawi. Walaupun terjadi sudut pandang yang berbeda, namun sesungguhnya mempunyai perhatian yang sama, yakni keinginan dan kesadaran untuk lebih memahami agama secara tepat dan benar sebagai sumber keyakinan dan perilaku masyarakat dengan saling memperhatikan dan menyadari kelemahan satu sama lain. Pendekatan emperik yang terlalu memusatkan perhatian pada aspek-aspek manifestasi luar dari pengalaman keagamaan dengan segala dimensinya, ternyata belum mampu sepenuhnya menangkap pengertian secara mendalam mengenai dimensi teologis y arrg melatar-belakangi perilaku individu atau kelompok agama tertentu. Sementara itu, pendekatan tekstual yang bersifat deduktif sering menganggap bahwa masyarakat akan berjalan sepenuhnya mengikuti petunjuk-petunjuk agama. Karena itu, selain pendekatan deduktif, diperlukan juga pendekatan induktif yang selaluberusaha mengajukan pelbagai macam fakta sosial sebagai pemahaman emperik. Kerjasama kedua pandangan ini, diharapkan lebih memungkinkan diperolehnya hasil-hasil kajian yang lebih lengkap, berbobot, dan lebih mudah dipahami berkenaan dengan masalah keagamaan. lnilah yang menjadi keinginan atau tujuan dari penyelenggaraan kajian ini. Beragamnya pemikiran, konsep, wawasan dan informasi dari para peneliti yang terlibat dalam kajian ini diharapkan akan merupakan masukan yang bermakna buat pimpinan departemen Agama RI dalam menyusun kebijakan, khususnya dalam rangka menciptakan suasana yangmemungkinkan terwujudnya kerukunan hidup beragama dan kerukunan nasional. Melalui hasil kajian Puslitbang Kehidupan Beragama, Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan tentang Fungsi sosial Rumah Ibadah dari berbagai agama perspektif kerukunan umat beragama di Indonesia ini dimaksudkan dan pihak dapat melihat kondisi dan dinamika yang berkembang dalam masyarakat. (libra)
650 # 4 $a Agama
650 # 4 $a Rumah Ibadah
990 # # $a 022007
990 # # $a 022008
Content Unduh katalog