
| Judul | Manusia Menurut Al - Ghazali |
| Pengarang | Nasution, Muhammad Yasir |
| Penerbitan | Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2002 |
| Deskripsi Fisik | 235 hlm. ;18 cm. |
| ISBN | 979-421-156-7 |
| Subjek | Filsafat Manusia |
| Abstrak | Manusia menurut Al-Ghazali Bagi al-Ghazali, menghampiri hakikat atau untuk mencari kasih dan ridha Tuhan, tumpuannya adalah akal. Pada pendapat ini beliau dijunjung tinggi sebagai penyelamat agama dan ummat. Ketika berada pada ujung usia, disadari bahwa akal hanya menghasilkan kontak yang tidak langsung. Untuk itu, beliau menunjuk naluri (al-dzawq) sebagai piranti yang akan menghantar manusia pada kontak yang serba langsung. Dengan peralihan konsep teologis ini, beliau dituding sebagai biang kemunduran Islam. Lantaran naluri baru sahih sebagai media sesudah melewati beberapa fase kehidupan yang sufistik. Orientasi sufistik jelas berciri keakhiratan penuh dalam arti mengabaikan urusan duniawi, yang justru merupakan salah-satu aspek penting bagi kekhilafahan manusia di muka bumi. Dengan jalan pikir yang antagonistis tersebut, bagaimana kita hendak menempatkan dan memahami karyakarya al-Ghazali sebagai tokoh pemikir Islam yang amat dihormati itu? Di samping bagaimana pula Islam hendak mengenali fenomena baru ber |
| Bahasa | Indonesia |
| Bentuk Karya | Bukan fiksi atau tidak didefinisikan |
| Target Pembaca | Tidak diketahui / tidak ditentukan |
| No Barcode | No. Panggil | Akses | Lokasi | Ketersediaan |
|---|
| Tag | Ind1 | Ind2 | Isi |
| 001 | INLIS000000000003672 | ||
| 005 | 20220518021851 | ||
| 008 | 220518###########################0#ind## | ||
| 020 | # | # | $a 979-421-156-7 |
| 035 | # | # | $a 0010-0621003272 |
| 082 | # | # | $a 128 |
| 084 | # | # | $a 128 NAS m |
| 100 | 3 | # | $a Nasution, Muhammad Yasir |
| 245 | 1 | # | $a Manusia Menurut Al - Ghazali |
| 260 | # | # | $a Jakarta :$b Raja Grafindo Persada,$c 2002 |
| 300 | # | # | $a 235 hlm. ; $c 18 cm. |
| 520 | # | # | $a Manusia menurut Al-Ghazali Bagi al-Ghazali, menghampiri hakikat atau untuk mencari kasih dan ridha Tuhan, tumpuannya adalah akal. Pada pendapat ini beliau dijunjung tinggi sebagai penyelamat agama dan ummat. Ketika berada pada ujung usia, disadari bahwa akal hanya menghasilkan kontak yang tidak langsung. Untuk itu, beliau menunjuk naluri (al-dzawq) sebagai piranti yang akan menghantar manusia pada kontak yang serba langsung. Dengan peralihan konsep teologis ini, beliau dituding sebagai biang kemunduran Islam. Lantaran naluri baru sahih sebagai media sesudah melewati beberapa fase kehidupan yang sufistik. Orientasi sufistik jelas berciri keakhiratan penuh dalam arti mengabaikan urusan duniawi, yang justru merupakan salah-satu aspek penting bagi kekhilafahan manusia di muka bumi. Dengan jalan pikir yang antagonistis tersebut, bagaimana kita hendak menempatkan dan memahami karyakarya al-Ghazali sebagai tokoh pemikir Islam yang amat dihormati itu? Di samping bagaimana pula Islam hendak mengenali fenomena baru berupa ilmu pengetahuan. Kiranya buku ini merupakan langkah awal yang menjelaskan duduk soal. by iwn. |
| 650 | # | 4 | $a Filsafat Manusia |
| 990 | # | # | $a 009951 |
| 990 | # | # | $a 009952 |
| 990 | # | # | $a 009953 |
| 990 | # | # | $a 015795 |
Content Unduh katalog
Karya Terkait :