Cite This        Tampung        Export Record
Judul Firman dan Sebiji Apel
Pengarang Dalasari Pera
EDISI Cetakan 1
Penerbitan Yogyakarta : BASABASI, 2019
Deskripsi Fisik 100 Halaman ;20 cm
ISBN 9786025783852
Subjek Puisi Indonesia
Abstrak Di toko buku, sering kali buku puisi menjelma makhluk “antara ada dan tiada”. Di hadapan buku puisi, orang-orang lalu lalang, namun tidak memandang ke arahnya. Di lain waktu, sepasang remaja perempuan membongkar rak buku itu dan mencari buku puisi romantis. Seorang di antaranya menyarankan untuk tidak memaksakan diri mencari buku tersebut. “Cari saja di google!” katanya seraya berlalu. Saya menjadi cemas. Dengan apa lagi kelak saya bisa menghamburkan kata dan makna sebanyak-banyaknya meski berada di dalam “rumah” yang kadang sempit kadang lapang? Siapa yang akan membaca puisi-puisi saya agar tak beralih fungsi menjadi rumah singgah bagi debu? Mengapa harus ada puisi di antara kita? Firman dan Sebiji Apel merupakan hasil tangkapan saya dari sebuah cermin besar; kehidupan. Merekamnya satu per satu dari berbagai peristiwa, lalu menuliskannya. Demikian berulang-ulang. Selalu ada hal sederhana untuk menghidupkan kepekaan pada sekeliling saya dan menumbuhkan rasa cinta pada puisi. Namun, ketika mengendapkannya, sa
Bahasa Indonesia
Bentuk Karya Bukan fiksi atau tidak didefinisikan
Target Pembaca Umum

 
No Barcode No. Panggil Akses Lokasi Ketersediaan
069962 811 PER f Dapat dipinjam DISPUSARDA Kota Metro - Ruang Koleksi Umum Tersedia
pesan
069960 811 PER f Dapat dipinjam DISPUSARDA Kota Metro - Ruang Koleksi Umum Tersedia
pesan
069961 811 PER f Dapat dipinjam PUSLING Kota Metro - Ruang Tandon Tersedia
pesan
Tag Ind1 Ind2 Isi
001 INLIS000000000017951
005 20260211101009
008 260211################g##########0#ind##
020 # # $a 9786025783852
035 # # $a 0010-0822000336
082 # # $a 811
084 # # $a 811 DAL f
100 0 # $a Dalasari Pera
245 1 # $a Firman dan Sebiji Apel
250 # # $a Cetakan 1
260 # # $a Yogyakarta :$b BASABASI,$c 2019
300 # # $a 100 Halaman ; $c 20 cm
520 # # $a Di toko buku, sering kali buku puisi menjelma makhluk “antara ada dan tiada”. Di hadapan buku puisi, orang-orang lalu lalang, namun tidak memandang ke arahnya. Di lain waktu, sepasang remaja perempuan membongkar rak buku itu dan mencari buku puisi romantis. Seorang di antaranya menyarankan untuk tidak memaksakan diri mencari buku tersebut. “Cari saja di google!” katanya seraya berlalu. Saya menjadi cemas. Dengan apa lagi kelak saya bisa menghamburkan kata dan makna sebanyak-banyaknya meski berada di dalam “rumah” yang kadang sempit kadang lapang? Siapa yang akan membaca puisi-puisi saya agar tak beralih fungsi menjadi rumah singgah bagi debu? Mengapa harus ada puisi di antara kita? Firman dan Sebiji Apel merupakan hasil tangkapan saya dari sebuah cermin besar; kehidupan. Merekamnya satu per satu dari berbagai peristiwa, lalu menuliskannya. Demikian berulang-ulang. Selalu ada hal sederhana untuk menghidupkan kepekaan pada sekeliling saya dan menumbuhkan rasa cinta pada puisi. Namun, ketika mengendapkannya, saya menemukan kemewahan tak terbatas. Betapa tidak, kata-kata begitu kaya. Kata-kata begitu riuh. Kata-kata begitu gembira menjelaskan arti kerumitan. Dan, kata-kata begitu kuat mencari rumahnya sendiri. Memadukan kesederhanaan dan kemewahan dalam puisi bukanlah perkara mudah, meski telah membaca ribuan kali buku tentang cara mudah menulis puisi. Saya meyakini bahwa dalam perpaduan itu telah tumbuh daya pikat puisi yang mampu berbicara tentang apa saja, di mana saja, dan kapan saja. Karena itulah, Firman dan Sebiji Apel menjadi sebuah rumah bagi puisi-puisi saya.
650 # 4 $a Puisi Indonesia
990 # # $a 069960
990 # # $a 069961
990 # # $a 069962
Content Unduh katalog