Cite This        Tampung        Export Record
Judul Karya-Karya Putu Wijaya : Perjalanan Pencarian Diri
Pengarang Prihatmi, Sri Rahayu
Penerbitan Jakarta : Grasindo, 2001
Deskripsi Fisik 109 hlm. ;cm.
ISBN 979-695-414-1
Subjek Kumpulan Cerpen
Abstrak KARYA-KARYA PUTU WIJAYA : PERJALANAN PENCARIAN DIRIKarya-karya Putu Wijaya yang tidak pernah berhenti mengalir sejak tahun L964 hingga kini - baik cerkan 1maupun lakon - tentu harus dicatat oleh dunia sastra Indonesia. Lebih-lebih karena karya tersebut menun-jukkan kualitas yang membanggakan. Karya-karyanya yang di luar tradisi realisme, seperti Telegram, Stasiun, dan Keok dapat dikelompokkan ke dalam karya-karya seperti karya-k ary a Iwan Simatupatrg,Budi Darma, dan Danarto. Namun, agak berbeda dengan karya-k ary alwan Simatupang dan Danarto, karya-karya Putu Wijaya awal masih menggunakan tradisi realisme, misalnya novel Bila Malam Bertambah Malam dan Pabrik . Artinya peristiwa yang disajikan di dalamnya merupakan peristiwa dunia nyata sehari-hari yang dapat diterima akal manusia biasa, demikian pula tokoh dan tempat terj adinya peristiwa.Diawali dengan lahirnya novel Telegram (1973), tampak karya-karya Putu Wijaya selanjutnya beralihtradisi. Banyak peristiwa tidak masuk akal yang diramukan ke dalamnya, demi
Bahasa Indonesia
Bentuk Karya Bukan fiksi atau tidak didefinisikan
Target Pembaca Tidak diketahui / tidak ditentukan

 
No Barcode No. Panggil Akses Lokasi Ketersediaan
011017 808.08 PRI k Dapat dipinjam DISPUSARDA Kota Metro - Ruang Koleksi Umum Tersedia
pesan
011019 808.08 PRI k Dapat dipinjam DISPUSARDA Kota Metro - Ruang Koleksi Umum Tersedia
pesan
011020 808.08 PRI k Dapat dipinjam DISPUSARDA Kota Metro - Ruang Koleksi Umum Tersedia
pesan
011021 808.08 PRI k Dapat dipinjam PUSLING Kota Metro - Ruang Tandon Tersedia
pesan
Tag Ind1 Ind2 Isi
001 INLIS000000000011262
005 20240619024040
008 240619###########################0#ind##
020 # # $a 979-695-414-1
035 # # $a 0010-0721006521
082 # # $a 808.08
084 # # $a 808.08 PRI k
100 1 # $a Prihatmi, Sri Rahayu
245 1 # $a Karya-Karya Putu Wijaya : $b Perjalanan Pencarian Diri
260 # # $a Jakarta :$b Grasindo,$c 2001
300 # # $a 109 hlm. ; $c cm.
520 # # $a KARYA-KARYA PUTU WIJAYA : PERJALANAN PENCARIAN DIRIKarya-karya Putu Wijaya yang tidak pernah berhenti mengalir sejak tahun L964 hingga kini - baik cerkan 1maupun lakon - tentu harus dicatat oleh dunia sastra Indonesia. Lebih-lebih karena karya tersebut menun-jukkan kualitas yang membanggakan. Karya-karyanya yang di luar tradisi realisme, seperti Telegram, Stasiun, dan Keok dapat dikelompokkan ke dalam karya-karya seperti karya-k ary a Iwan Simatupatrg,Budi Darma, dan Danarto. Namun, agak berbeda dengan karya-k ary alwan Simatupang dan Danarto, karya-karya Putu Wijaya awal masih menggunakan tradisi realisme, misalnya novel Bila Malam Bertambah Malam dan Pabrik . Artinya peristiwa yang disajikan di dalamnya merupakan peristiwa dunia nyata sehari-hari yang dapat diterima akal manusia biasa, demikian pula tokoh dan tempat terj adinya peristiwa.Diawali dengan lahirnya novel Telegram (1973), tampak karya-karya Putu Wijaya selanjutnya beralihtradisi. Banyak peristiwa tidak masuk akal yang diramukan ke dalamnya, demikian pula tokoh dan latarnya.Oleh karena itu, karya-karya yang seperti itu sering disebut absurd, artinya tidak masuk akal, tidak logis,2atau surealis,s artinya realitas yang melampaui realitas biasa. Ada pula yang menyebutnya nonrealis, artinya tidak mengikuti tradisi realisa Sementara Rosemary Jackson menyebut karya-karya seperti itu fantasi: sastra yang subversif atau merongrong sastra zarraartrrya. Karena abad ke-19 ke atas adalah zarr,an sastra realis, maka yang dirongrongnya adalah tradisi realisme.s Meskipun Jackson mengatakan bahwa rongrongan itu terutama dalam hal struktur, namun sering berkaitan pula dengan tema yang disajikan. Akan tetapi, apakah realitas ? Rosemary Jackson pernah menyatakan bahwa apa yang dinamakan realitas itu tidak ada patokannya 6 Ada realitas yang ukurannya indera, sehingga apa yang tidak dapat diindera dianggap tidak riil. Namun, sebenarnya ukuran realitas itu sangat subjektif. Landow pernah berkata bahwa kita sering menganggap sesuatu itu tidak riil karena kita tidak menggunakan sudut pandang mereka. Oleh karena itu, dapatlah disimpulkan bahwa realitas itu bukan hanya tunggal. Ada realitas sehari-hari yang dapat dijangkau oleh indera dan logika manusia pada umumnya, ada realitas yang di luar itu, yang oleh kaum surealis disebut realitas yang melampaui realitas biasa, yang dalam pengertian sehari-hari dianggap tidak riil. Karya-karya seperti itu tentu merupakan tantangan bagi siapa pun yang berkecimpung dalam dunia sastra. Saya pribadi, selain tertarik juga terusik untuk menelitinya. Oleh karena itu, sesudah tesis saya yang meneliti kumpulan cerpen Danarto,8 saya melanjutkan dengan meneliti karya-karya Putu Wijaya dalam disertasi,e dan apa yang ada dalam buku ini mula-mula adalah disertasi saya tersebut. Penyajiannya sedapat mungkin saya sederhanakan, dan saya tambah dengan cerkan-cerkan Putu Wijaya yang masih mengkuti tradisi realisme, juga yang sedikit bergeser dari tradisi tersebut, di samping lakon-lakonnya. Namun, tidak semua karya-karya Putu Wijaya akan dibicarakan, melainkan hanya karya-karya yang di-anggap mewakili. Seperti diketahui, karya-karya Putu Wijaya.
650 # 4 $a Kumpulan Cerpen
990 # # $a 011017
990 # # $a 011019
990 # # $a 011020
990 # # $a 011021
Content Unduh katalog