03000 2200289 4500001002100000005001500021035002000036007000300056008004100059020001500100082001600115084002200131100003600153245014400189250001400333300005200347650002300399650001900422504002900441505023300470520189400703264002802597336002102625337003002646338002302676990001102699INLIS00000000002371220251219090509 a0010-1225000127ta251219 | 0 ind  a9799210496 aR.352.941 5 aR.352.941 5 SOE a0 aSoekirno HadimartonoePengarang1 aAnalisis Perkembangan, hubungan dan pengaruh Kemiskinan dengan kesertaan dan pengaruh Ber-Kb dan Fertilitas Tahun Tahun 1994, 1995 dan 1996 aCetakan 2 aiii + 87 halaman :bIlustrasi [Grafis] ;c27 cm 4aKeluarga Berencana 4aTingkat Daerah aBibliografi : 89 halaman a1. kerangka teori dan metodologi 2. latar belakang wanita usia subur berstatus kawin 3. analisis hubungan kemiskinan dengan faktor pemakaian kontrasepsi dan fertilitas 4. Estimasi model fertilitas dan pemakain kontrasepsi aKeberhasilan pembangunan salah satunya ditandas oleh keberhasilan pengendalion jundah penduduk, oleh karena penduduk merupakan subyek sekaligus obyek pembanguna Padaha kekatnya jumlah penduduk yang terkendali dapat berperan schagn met pembangunan, schahknya jumlah penduduk yang tidak terkendali cenderung merupakan belan sosial. Meskipun jumlah penduduk dipengaruhi oleh kelahiran dan kematian, name peristiwa kelahiran akan senantiasa menjadi aspek yang diperhitungkan (peristiwa kematian tidak pernah di ekspose untuk menurunkan jumlah kelahiran, akan tetapi digunakan sebeg vi indikator tingkat kesejahteraan/kesehatan masayarakat) Menurunkan angka kelahiran atau fertilitas melalui pembangunan keluarga berencana berarti mengkondisikan berbagai aspek diantaranya aspek kesertaan ber-KB dan kondisi sosial ekonomi atau kesejahteraan sosial wanita. Aspek kesejahteraan sosial diakui merupakan aspek yang sangat kompleks dan sulit diukur, namun berdasarkan berbagai penelitian, tingkat konsumsi dipakai sebagai indikator pengeluaran. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tingkat konsumsi akan sangat berkaitan erat dengan indikator-indikator lain seperti, tingkat pendidikan, penghasilan, pengeluaran, dan lain-lain. Saat ini, penentuan tingkat kemiskinan yang disusun oleh Biro Pusat Statistik secara eksplisit menggunakan indikator tingkat konsumsi (pengeluaran). Dalam kesempatan ini, dilakukan analisis hubungan dan pengaruh kemiskinan dengan kesertaan ber-KB dan fertilitas serta memperhatikan perkembangannya selama tahun 1994, 1995, dan 1996. Analisis ini menggunakan data yang bersumber pada hasil Survai Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun yang bersangkutan. Dengan selesainya penulisan analisis ini, kami mengucapkan terima kasih kepada penyusun dan yang terkait atas bantuan dan kerjasamanya sehingga memungkinkan tulisan ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. aJakarta :bBKKBN,c1998 2rdacontentaTeks 2rdamediaaTanpa Perantara 2rdacarrieraLembar a005119