<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<collection xmlns="http://www.loc.gov/MARC21/slim">
 <record>
  <leader>     na                 </leader>
  <controlfield tag="001">INLIS000000000023037</controlfield>
  <controlfield tag="005">20250916033038</controlfield>
  <datafield tag="035" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">0010-0925000112</subfield>
  </datafield>
  <controlfield tag="007">ta</controlfield>
  <controlfield tag="008">250916                g          0 ind  </controlfield>
  <datafield tag="020" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">979-741-054-4</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="082" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">158.4</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="084" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">158.4 ALI t</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="100" ind1="0" ind2=" ">
   <subfield code="a">Alistair McAlpine</subfield>
   <subfield code="e">Pengarang</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="245" ind1="1" ind2=" ">
   <subfield code="a">The Ruthless Leader :</subfield>
   <subfield code="b">Disiplin dan Keteguhan dalam Kepemimpinan, Tiga Karya Klasik Tentang Strategi dan Kekuasaan</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="300" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">v + 262 halaman ;</subfield>
   <subfield code="c">24 cm.</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="650" ind1=" " ind2="4">
   <subfield code="a">Psikologi Terapan</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="650" ind1=" " ind2="4">
   <subfield code="a">Kepemimpinan</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="700" ind1="0" ind2=" ">
   <subfield code="a">Dewi Sartika</subfield>
   <subfield code="e">Penerjemah</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="700" ind1="0" ind2=" ">
   <subfield code="a">Nurcahyo Mahanani</subfield>
   <subfield code="e">Penyunting</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="740" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">The Ruthless Leader : Three Classics of Strategy and Power</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="264" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">Jakarta :</subfield>
   <subfield code="b">Erlangga,</subfield>
   <subfield code="c">2004</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="336" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="2">rdacontent</subfield>
   <subfield code="a">Teks</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="337" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="2">rdamedia</subfield>
   <subfield code="a">Tanpa Perantara</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="338" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="2">rdacarrier</subfield>
   <subfield code="a">Lembar</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="502" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">Indeks 258-262 Halaman</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="520" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">The Ruthless Leader : Disiplin dan Keteguhan dalam Kepemimpinan, Tiga Karya Klasik Tentang Strategi dan Kekuasaan&#13;
&#13;
Sang jendral besar itu, menegaskan bahwa adalah tanggung jawab mereka yang berwenang untuk menyampaikan perintah-perintah dengan cara sedemikian rupa sehingga perintah-perintah tersebut dapat dimengerti, lalu ia menjelaskan kepada wanita itu mengenai apa yang ia inginkan untuk mereka lakukan dalam perintah yang jelas dan tidak mungkin disalahartikan. Sang jendral kemudian juga memanggil para algojo untuk bersiap-siap menunjukkan bahwa ia menghargai disiplin sebagai esensi kehidupan militer. genderang ditabuh, perintah-perintah diteriakkan dan para wanita itu , kali ini masih saja berdiri di tempatnya. Cekikikan mereka, walaupun hanya sesekali, lalu segera berubah menjadi tawa yang keras. Sekali lagi Sun Tsu mengatakan kepada para wanita itu bahwa perintah-perintah yang tidak dapat dipahami secara tegas adalah kesalahan dari para komendan, dan ia kemudian mengulangi lagi latihan tersebut.&#13;
&#13;
Kembali genderang ditabuh, perintah-perintah diteriakkan, dan sekali lagi para wanita tertawa. Sun Tsu lagi-lagi menegaskan, perintah yang kurang jelas adalah kesalahan dari para komendan. Akan tetapi, perintah yang telah disampaikan dengan lugas namun tetap tidak dipatuhi, maka itu menjadi kesalahan pihak yang dipimpin. Dengan kata-kata tersebut, sang jendral memerintahkan algojo untuk memenggal kepala dua selir utama, walaupun saat itu diprotes oleh Sang Panguasa, Pangeran He Lu. Sun Tzu kemudian begitu saja menunjuk dua wanita lain untuk memimpin pasukan dan melanjutkan latihan. Ia sangat paham makna penting dari disiplin dalam medan pertempuran dan ia bertindak dengan kata-kata yang sangat bengis dan kasar untuk memastikan bahwa ia memiliki disiplin, bahkan dalam pasukan yang tampak hampir mustahil ini. Pada giliran berikutnya ketika perintah-perintah diteriakkan, para wanita berlatih tanpa cela. Kemudian Sang Penguasa diminta untuk menyaksikan pandangan yang hampir mustahil ini, satu tawaran yang ditampiknya karena Sang Penguasa merasa kehilangan dua selir favoritnya. Akibatnya, Pangeran He Lu dipandang sebagai pemimpin yang hina oleh Sun Tzu.&#13;
&#13;
Buku The Ruthless Leader menyajikan kombinasi pemikiran yang tajam dan mendalam tentang sifat dasar manusia dalam konteks kekuasaan dan kepemimpinan. Ketika seorang pemimpin memadukan disiplin strategi, efektivitas tindakan, dan inovasi dalam penerapan kepemimpinan, maka ia sedang membangun fondasi kuat untuk kepemimpinan yang berhasil dan berdampak jangka panjang</subfield>
  </datafield>
  <datafield tag="990" ind1=" " ind2=" ">
   <subfield code="a">014115</subfield>
  </datafield>
 </record>
</collection>
