03498 2200301 4500001002100000005001500021035002000036007000300056008004100059020001800100082001000118084001600128100003300144245011900177300003000296650002200326650001700348700002900365700003400394740006300428264003100491336002100522337003000543338002300573502002700596520256200623990001103185INLIS00000000002303720250916033038 a0010-0925000112ta250916 g 0 ind  a979-741-054-4 a158.4 a158.4 ALI t0 aAlistair McAlpineePengarang1 aThe Ruthless Leader :bDisiplin dan Keteguhan dalam Kepemimpinan, Tiga Karya Klasik Tentang Strategi dan Kekuasaan av + 262 halaman ;c24 cm. 4aPsikologi Terapan 4aKepemimpinan0 aDewi SartikaePenerjemah0 aNurcahyo MahananiePenyunting aThe Ruthless Leader : Three Classics of Strategy and Power aJakarta :bErlangga,c2004 2rdacontentaTeks 2rdamediaaTanpa Perantara 2rdacarrieraLembar aIndeks 258-262 Halaman aThe Ruthless Leader : Disiplin dan Keteguhan dalam Kepemimpinan, Tiga Karya Klasik Tentang Strategi dan Kekuasaan Sang jendral besar itu, menegaskan bahwa adalah tanggung jawab mereka yang berwenang untuk menyampaikan perintah-perintah dengan cara sedemikian rupa sehingga perintah-perintah tersebut dapat dimengerti, lalu ia menjelaskan kepada wanita itu mengenai apa yang ia inginkan untuk mereka lakukan dalam perintah yang jelas dan tidak mungkin disalahartikan. Sang jendral kemudian juga memanggil para algojo untuk bersiap-siap menunjukkan bahwa ia menghargai disiplin sebagai esensi kehidupan militer. genderang ditabuh, perintah-perintah diteriakkan dan para wanita itu , kali ini masih saja berdiri di tempatnya. Cekikikan mereka, walaupun hanya sesekali, lalu segera berubah menjadi tawa yang keras. Sekali lagi Sun Tsu mengatakan kepada para wanita itu bahwa perintah-perintah yang tidak dapat dipahami secara tegas adalah kesalahan dari para komendan, dan ia kemudian mengulangi lagi latihan tersebut. Kembali genderang ditabuh, perintah-perintah diteriakkan, dan sekali lagi para wanita tertawa. Sun Tsu lagi-lagi menegaskan, perintah yang kurang jelas adalah kesalahan dari para komendan. Akan tetapi, perintah yang telah disampaikan dengan lugas namun tetap tidak dipatuhi, maka itu menjadi kesalahan pihak yang dipimpin. Dengan kata-kata tersebut, sang jendral memerintahkan algojo untuk memenggal kepala dua selir utama, walaupun saat itu diprotes oleh Sang Panguasa, Pangeran He Lu. Sun Tzu kemudian begitu saja menunjuk dua wanita lain untuk memimpin pasukan dan melanjutkan latihan. Ia sangat paham makna penting dari disiplin dalam medan pertempuran dan ia bertindak dengan kata-kata yang sangat bengis dan kasar untuk memastikan bahwa ia memiliki disiplin, bahkan dalam pasukan yang tampak hampir mustahil ini. Pada giliran berikutnya ketika perintah-perintah diteriakkan, para wanita berlatih tanpa cela. Kemudian Sang Penguasa diminta untuk menyaksikan pandangan yang hampir mustahil ini, satu tawaran yang ditampiknya karena Sang Penguasa merasa kehilangan dua selir favoritnya. Akibatnya, Pangeran He Lu dipandang sebagai pemimpin yang hina oleh Sun Tzu. Buku The Ruthless Leader menyajikan kombinasi pemikiran yang tajam dan mendalam tentang sifat dasar manusia dalam konteks kekuasaan dan kepemimpinan. Ketika seorang pemimpin memadukan disiplin strategi, efektivitas tindakan, dan inovasi dalam penerapan kepemimpinan, maka ia sedang membangun fondasi kuat untuk kepemimpinan yang berhasil dan berdampak jangka panjang a014115