05206 2200241 4500001002100000005001500021035002000036008004100056245005500097100002300152260003400175300002500209020002100234084001400255520461100269082000804880650002104888990001104909990001104920990001104931990001104942990001104953INLIS00000000000183820220324124536 a0010-0621001438220324 g 0 ind 1 aAntropologi Filsafat :bManusia Paradoks Dan Serum1 aSnidjers, Adelbert aYogyakarta :bKanisius,c2004 a208 hlm. ;c22,5 cm. a978-979-21-084-8 a128 SNI a aANTROPOLOGI FILSAFAT MANUSIA PARADOKS DAN SERUANMata kuliah `Filsafat Manusia` selalu kami berikan dalam semester pertama Fakultas Filsafat Agama - Unika St. Thomas (Medan-Pematang Siantar), sehingga menjadi perkenalan pertama mahasiswa dengan filsafat sebagai mata kuliah. Untuk `berfilsafat` orang tidak memulainya dengan memasuki Fakultas Filsafat karcna sebenarnya filsafat sudah dimulat dalam pengalaman hidup sehari-hari. Manusia heran dan bertanya: Siapakah aku ini, manakah kekhasan manusia di tengah-tengah makhluk yang lain, dari mana, kemana, dan untuk apa? Filsafat tidak pernah merasa puas dengan jawaban yang dangkal-dangkal saja. Pertanyaan tadi menyentuh akar segala kenyataan. pada suatu saat membutuhkan bantuan dari refleksi ilmiah sehingga akhirnya penghayatan menjadl ilmu. Namun, fisafat sebagai ilmu tidak bisa lepas dari penghayatan hidup. Hanya dengan adanya kesatuan di antara keduanya mereka dapat saling memperkaya.Filsafat Manusia ini sekaligus merupakan suatu introduksi untuk filsafat pada umumnya. Dari pengalaman hal ini sangat tepat segala filsafat sebenarnya merupakan kelanjutan dari Filsafat Manusia dan relasi manusia dengan dunia, sesama dan Tuhan. Filsafat Pengetahuan membahas kemampuan manusia menuiukebenaran dengan sifatnya yang mutlak dan relatif. Dengan filsafat kesosialan, relasi manusia kepada sesama diperdalam. Dalam Filsafat Alam (osmologi) hubungan manusia dengan dunia alam menjadi pokok pembahasan. Dalam Metafisika manusia menemukan diri `seluas segala kenyataan` dan pertanyaan makin telah kepada apa yang berlaku untuk segala apa yang ada. Metafisika akhirnya menjadi Filsafat perubahan. Filsafat Manusia juga menjadi dasar ontologis untuk Filsafat Etika. Menjadi manusia sekaligus dihayati sebagai suatu sesuatu yang mengikat secara etis. `Being man is bauing to be man`. karena Filsafat Manusia ini sekaligus merupakan perkenalan dengan filsafat pada umumnya, maka diusahakan agar pembahas dirumuskan secara sederhana dan penjelasannya dekat dengan penghayatan yang direfleksikan. Mahasiswa masih kurang dekat dengan kamus bahasa filsafat, filsuf serta afuat yang muncul dalam sejarah, maka secara singkat juga diberikan keterangan tentang filsuf dan ahran filsafat yang beraneka ragam. Kutipan-kutipan dari buku berbahasa Inggris pada umumnya tidak diterjemahkan karena terjemahan sering kali melemahkan apa yang disampaikan pengarang. Selain itu, bahasa lnggris bagi kebanyakan mahasiswa bukan lagi kehilangan, melainkan bantuan untuk lebih mengenal bahasa fisafat. Penting bahwa Anda dari awal tergerak untuk ikut `berfilsafat`. Tujuannya agar kuliah dan bacaan buku-buku filsafat bukan untuk belajar filsafat (memang perlu juga), tetap yangl ebih penting bahwa Anda belajar berfilsafat. Pemahaman tidak datang dari Anda dapat dibantu untuk melihat masalahnya, tetapi `pemahaman` hanya lahir dari diri Anda sendiri. Semoga Filsafat Manusia ini ikut membantu para pembaca untuk be filsafat dan dengan demikian, melanjutkan apa yang sudah dimulai dalam diri Anda pada saat Anda merefleksikan pengalaman Anda sendiri. Bahan kuliah ini sudah sering kami olah. Kami makin sadar bahwa dari awal hadir pelbagai evidensi yang sangat inspiratif untuk pandangan atas kekhasan manusia di tengah-tengah makhluk yang lain. Jenis evidensi itu dalam filsafat Eksistensialisme disebut `primitif`, yaitu suatu kenyataan yang sejak semula dthayai sangat dasariah dan terang benderang. Pada mulanya evidensi-evidensi ini hadir secara implisit, tetapi makin lama makin disadari dan terungkap secara eksplisit. Evidensi-evidensi yang dasadah ini membawa cahaya ke dalam penghayatan dan menghasilkan pemahaman (insight). Manusia yang Anda temukan dalam Filsafat Manusia ki adilah makhluk yang eksistensial dan patadoksal, multidimensional dan dinamis. Evidensi-evidensi dasariah ini dalam Filsafat Manusia ini bagaikan suatu melodi dasar (uitruotil) dalam suatu simfoni. Evidensi tersebut tetus-menerus muncul kembali walaupun dalam suatu konteks yang berlainan. Evidensi-evidensi itu tidak dibuktikan karena sudah terang benderang. Terangnya evidensi tersebut membawa cahayake dalam penghayatan kita. Evidensi-evidensi dasariahitu tidak dibuktikan, hanya ditunjukkan. Inilah kekhasan afgumefltasi filosofis. Evidensi-evidensi dasariah ini membawa pemahaman atas persoalan-persoalan yang muncul menyangkut hakikat manusia. Pada saatini kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua yang mendorong dan membantu kami untuk menyelesaikan naskah ini hingga terbit dalam bentuk buku. dan semoga buku ini dapat bermanfaat bagi kita semua umumnya bagi pembaca. ( id ) a128 4aFilsafat Manusia a037110 a037113 a037109 a037111 a037112